Sejarah Sebutan Kampung Arab di Puncak Bogor, Nuansa Timur Tengah di Tanah Sunda

Banyaknya wisatawan asing khususnya turis Arab yang berdatangan ke Puncak Bogor membuat kawasan Puncak laiknya seperti di Timur Tengah.

Editor: Widi
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Banyaknya wisatawan asing khususnya turis Arab yang berdatangan ke Puncak Bogor membuat kawasan Puncak bertransformasi menjadi laiknya seperti di Timur Tengah. 

TRIBUNNEWSBOGORWIKI.COM -- Kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor surganya bagi para wisatawan yang ingin berlibur.

Wisatawan yang datang tidak hanya dari Jakarta, tapi juga mancanegara seperti Timur Tengah.

Banyaknya wisatawan asing khususnya turis Arab yang berdatangan ke Puncak Bogor membuat kawasan Puncak bertransformasi menjadi laiknya seperti di Timur Tengah.

Hampir di setiap pertokoan yang ada‎ di sana dipasang papan tulisan yang menggunakan Bahasa Arab.

Mulai dari toko jasa jual beli tiket, toko alat-alat berkemah, tukang cukur, penjual kambing, toko penjual pulsa dan yang lainnya.

Nuansa Arab paling kuat terletak di Jalan Raya Puncak KM.84, Kampung Sampay, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Warga biasanya menyebut tempat itu dengan ‎nama Warung Kaleng, sebab di kawasan tersebut dulu pernah berdiri toko-toko beratap seng atau kaleng.

Menurut Ketua Kelompok Penggerak (Kompepar) Puncak, Bowie, munculnya turis Arab berawal dari toko-toko keturunan Arab yang berdiri di sana sejak sekitar tahun 70-an.

‎Toko-toko tersebut saat itu menjual barang-barang dan makanan yang serba khas Timur Tengah untuk memanjakan wisatawan Arab yang berlibur ke sana.

"Dulu mah kan yang menjual kain, alat-alat rumah tangga kan orang-orang keturunan Arab," kata Bowie kepada TribunnewsBogor.com.

Dari waktu ke waktu, aktivitas warga Arab yang ada di sana pun sudah tidak dianggap aneh lagi oleh warga sekitar.

Warga Timur Tengah yang sudah lebih dulu tinggal di Puncak Bogor pun mengenalkan keindahan dan kesejukan Puncak kepada teman dan keluarganya di negara asal.

Hingga mereka pun berdatangan sebagai turis bahkan tak sedikit memilih menetap berpindah kewarganegaraan dan membuka usaha karena merasa betah tinggal di kawasan Puncak yang sejuk dan hijau.

"Temen-temennya dari Timur Tengah diundang kesini awalnya hanya maen, terus jadi berbisnis, berjualan dan sebagainya," ungkap Bowie.

Warga sekitar sudah terbiasa dan sudah berbaur dengan warga Timur Tengah tersebut.

Sudah menjadi hal biasa jika di sana ditemui warga lokal tengah bercanda dengan warga Arab ala teman sekampung.

Orang Arab yang berdatangan ke Puncak tidak hanya turis, tapi juga imigran Timur Tengah.

Warga lokal perlahan memperlajari Bahasa Arab

Banyaknya warga Arab yang datang ke Puncak membuat bahasa Arab dianggap dasar penting untuk mencari rezeki di Puncak.

Tukang parkir, tukang ojek hingga pedagang asongan pun sudah menguasai bahasa Arab demi pekerjaan mereka.

Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved