Menengok Vihara Maha Brahma, Klenteng Pan Kho Tertua di Kota Bogor

Klenteng Pan Kho menyimpan banyak sejarah peninggalan Kerajaan Pajajaran. Pemilihan berdirinya tempat ibadah Pan Kho Bio pun tak sembarangan.

Penulis: Tsaniyah Faidah
Editor: Widi
TribunnewsBogorWiki.com
Pengurus Vihara Maha Brahma, Candra di Vihara Maha Brahma (Pan Kho Bio) 

Pengurus Vihara Maha Brahma, Candra mengatakan, Pan Kho Bio digunakan sebagai tempat peribadatan warga Tionghoa yang menganut aliran Tao, Khong Hucu, dan Budha.

Tidak hanya sebagai peribadatan orang Tionghoa, klenteng ini juga kerap digunakan oleh umat Muslim untuk tawasulan di ruang ziarah dan kegiatan keagamaan lainnya.

"Karena di sini terdapat dua batu besar yang diyakini sebagai tempat petilasan dua tokoh penyebar agama Islam," ucapnya.

Tentang Dewa Pan Kho

Dewa Pan Kho, tuan rumah dan yang tertinggi di Pan Kho Bio
Dewa Pan Kho, tuan rumah dan yang tertinggi di Pan Kho Bio (TribunnewsBogorWiki.com)

Dewa Pan Kho menjadi tuan rumah dan yang tertinggi di klenteng ini.

Dewa Pan Kho oleh masyarakat Tionghoa sebagai Sang Kreator Alam Semesta.

Mulanya terdapat kegelapan dan kekacauan dimana-mana.

Namun di dalam kegelapan itu Dewa Pan Kho raksasa hadir dari sebutir telur, tempat Pan Kho tidur dan tumbuh selama ribuan tahun.

Saat tumbuh menjadi besar, tangan-tangannya direntangkan hingga telur pecah.

Bagian yang lebih ringan dari telur melayang ke atas membentuk langit dan bagian bawah yang lebih padat tenggelam menjadi bumi.

Dari situlah terbentuk bumi dan langit, Yin dan Yang.

Agar bumi dan langit tak membaur kembali, Pan Kho menempatkan diri di keduanya, dimana kepalanya menahan langit dan kakinya melekat kokoh di bumi.

Saat Pan Kho wafat, bagian-bagian tubuhnya menjadi semua materi yang mengisi alam semesta.

Nafasnya menjadi angin dan awan, suaranya menjadi guntur, mata kirinya matahari dan mata kanan menjadi bulan.

Kemudian lengan dan tungkai menjadi mata angin, tubuhnya adalah pegunungan, dagingnya adalah bumi dan pepohonan.

Lalu darahnya menjadi sungai, pembuluh darahnya menjadi lintasan yang dilalui manusia, rambutnya menjadi rerumputan, sementara kulitnya menjadi kulit bumi.

Batu-batu berharga dan mineral terbentuk dari tulang dan gigi Pan Kho, keringatnya menjadi embun, rambut kepala menjadi bintang, dan terakhir benalu-benalu di tubuhnya berubah menjadi manusia berbagai ras dan suku.(*)

Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR
39 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved